SUPERVISI PENDIDIKAN KEJURUAN
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Manajemen Pendidikan Kejuruan
oleh
Dedy Dwi Qoirudin
Febri Darmawan
Gilang Rafiqa Sari
Yoga Bayu Anggara
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN
TEKNIK ELEKTRO
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberadaan guru dan tenaga kependidikan lainnya
memberikan andil yang besar untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam proses
pencapaian tujuan tersebut secara lebih efektif dan efisien, kemampuan tenaga
kependidikan perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan tenaga
kependidikan adalah pelaksanaan supervisi.
Pada dasarnya supervisi merupakan yang tidak
terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama
untuk mengembangkan efektifitas kerja tenaga kependidikan . Supervisi merupakan
salah satu faktor penting sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan
melalui kegiatan yang dilakukan oleh supervisor. Keberhasilan pendidikan tidak
terlepas dari peranan supervisor di bidang pendidikan yang berupaya
menemukan-masalah pendidikan dan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi.
Melalui supervisi, guru dibei kesempatan untuk meningkatkan kinerja, dilatih
untuk memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi. Demikian juga dengan
tenaga kependidikan lainnya diberikan kesempatan yang sama untuk meningkatkan
kinerja.
Dengan demikian supervisi pendidikan bermaksud
meningkatkan kemampuan profesional dan teknis bagi guru, dan tenaga
kependidikan lainnya agar proses pendidikan di sekolah lebih berkualitas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan supervisi pendidikan kejuruan ?
2. Apa tujuan dari supervisi pendidikan kejuruan ?
3. Apa fungsi dari supervisi pendidikan kejuruan ?
4. Apa prinsip dari supervisi pendidikan kejuruan ?
5. Bagaimana teknik-teknik supervisi pendidikan kejuruan ?
6. Apa jenis-jenis pelayanan supervisi pendidikan kejuruan?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian tentang supervisi pendidikan kejuruan.
2. Mengetahui tujuan dari supervisi pendidikan kejuruan.
3. Mengetahui fungsi dari supervisi pendidikan kejuruan.
4. Mengetahui prinsip dari supervisi pendidikan kejuruan.
5. Mengetahui teknik teknik dari supervisi pendidikan kejuruan.
6. Mengetahui jenis-jenis pelayanan supervisi pendidikan kejuruan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Supervisi Pendidikan
Supervisi
pendidikan merupakan bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih
baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan
situasi belajar mengajar yaitu meliputi tujuan, materi, teknik, metode, guru,
murid dan lingkungan.Arti Supervisi menurut asal usul (etimologi), bentuk
perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu (
semantik).
Secara
morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan
vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan
inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang
dilakukan oleh atasan – orang yang berposisi diatas, pimpinan – terhadap
hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan
tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervisi bukan mencari-cari
kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi
pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata -
mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki
Secara sematik, Supervisi pendidikan
adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi
pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar
pada khususnya.
Secara
Etimologi, supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision”
artinya pengawasan di bidang pendidikan.
Dalam Dictionary of Education, Good Carter (1959) memberikan
pengertian bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam
memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran,
termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan
guru-guru, merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, metode, dan
evaluasi pengajaran (Sahertian, 2008: 17).
Atas dasar
uraian diatas, maka pengertian supervisi dapat dirumuskan sebagai berikut “
serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan
profesional yang diberikan oleh supervisor ( Pengawas sekolah, kepala sekolah,
dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar.
Karena supervisi atau pembinaan guru tersebut lebih menekankan pada pembinaan
guru tersebut pula “Pembinaan profesional guru“ yakni pembinaan yang lebih
diarahkan pada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan profesional guru.
B. Tujuan Supervisi Pendidikan
Semua kegiatan yang dilakukan
tentu memiliki tujuan dan selalu mengarah kepada tujuan yang ingin dicapai
tersebut. Pendidikan merupakan salah satu bentuk kegiatan manusia yang memiliki
tujuan yang ingin dicapai dari proses pelaksanaanya.
Merumuskan tujuan supervisi
pendidikan harus dapat membantu mencari dan menentukan kegiatan-kegiatan
supervisi yang lebih evektif. Kita tidak dapat berbicara tentang efektivitas
suatu kegiatan, jika tujuannya belum jelas. Tujuan supervisi pendidikan adalah:
1. Membantu Guru agar dapat lebih mengerti/menyadari
tujuan-tujuan pendidikan di sekolah, dan fungsi sekolah dalam usaha mencapai
tujuan pendidikan itu.
2. Membantu Guru agar mereka lebih menyadari dan
mengerti kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi siswannya; supaya dapat
membantu siswanya itu lebih baik lagi.
3. Untuk melaksnakan kepemimpinan efektif dengan
cara yang demokratis dalam rangka meningkatkan kegiatan-kegiatan profesional di
sekolah, dan hubungan antara staf yang kooperatif untuk bersama-sama
meningkatkan kemampuan masing-masing.
4. Menemukan kemampuan dan kelebihan tiap guru dan
memanfaatkan serta mengembangkan kemampuan itu dengan memberikan tugas dan
tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuannya.
5. Membantu guru meningkatkan kemampuan
penampilannya didepan kelas.
6. Membantu guru baru dalam masa orientasinya supaya
cepat dapat menyesuaikan diri dengan tugasnya dan dapat mendayagunakan
kemampuannya secara maksimal.
7. Membantu guru menemukan kesulitan belajar
murid-muridnya dan merencanakan tindakan-tindakan perbaikannya.
8. Menghindari tuntutan-tuntutan terhadap guru yang
diluar batas atau tidak wajar; baik tuntutan itu datangnya dari dalam (sekolah)
maupun dari luar (masyarakat).
Menurut Hasbullah (2009: 12),
fungsi dan tujuan supervisi pendidikan adalah sebagai berikut.
a. Sebagai arah pendidikan. Dalam hal ini, tujuan
akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah tadi menunjukkan jalan
yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya. Sebagai
contoh, guru yang berkeinginan membentuk anak didikanya menjadi manusia yang
cerdas maka arah dari usahanya ialah menciptakan situasi belajar yang dapat
mengembangkan kecerdasan.
b. Tujuan sebagai titik akhir. Dalam kaitan ini, apa
yang diperhatikan adalah hal-hal yang terletak pada jangkauan masa datang.
Misalnya, jika seorang pendidik bertujuan agar anak didiknya menjadi manusia
yang berakhlak mulia, tentu penekanannya di sini adalah deskripsi tentang
pribadi akhlakul karimah yang diinginkannya tersebut.
c. Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan
lain. Dalam hal ini, tujuan pendidikan yang satu dengan yang lain merupakan
satu kesatuan yang tak terpisahkan.
d. Memberi nilai pada usaha yang dilakukan. Dalam
konteks usaha-usaha yang dilakukan, kadang-kadang didapati tujuannya yang lebih
luhur dan lebih mulia dibanding yang lainnya. Semua ini terlihat apabila berdasarkan
nilai-nilai tertentu.
Tujuan supervisi pendidikan
ialah mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik melalui pembinaan
dan peningkatan profesi mengajar.
C. Fungsi Supervisi Pendidikan
Menurut Swearingen (Sahertian, 2000: 21) terdapat
8 fungsi supervisi sebagai berikut:
1. Mengkoordinasi semua usaha sekolah
Usaha-usaha sekolah meliputi:
a. Usaha tiap guru
Guru ingin mengemukakan ide dan menguraikan
materi pelajaran menurut pandangannya ke arah peningkatan. Usaha-usaha yang
bersifat individu tersebut perlu dikoordinasi. Itulah fungsi supervisi.
b. Usaha-usaha sekolah
Sekolah dalam menentukan kebijakan, merumuskan
tujuan-tujuan atas setiap kegiatan sekolah, termasuk program-program sepanjang
tahun ajaran, perlu ada koordinasi yang baik.
c. Usaha-usaha bagi pertumbuhan jabatan
Setiap guru ingin bertumbuh dalam jabatannya.
Oleh karena itu, guru selalu belajar terus menerus, mengikuti seminar,
workshop, dan lain-lain. Mereka berusaha meningkatkan diri agar lebih baik.
Untuk itu, perlu ada koordinasi yang merupakan tugas dari supervisi.
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah
Kepemimpinan merupakan suatu ketrampilan yang
harus dipelajari dan membutuhkan latihan yang terus-menerus. Salah satu fungsi
supervisi adalah melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki
ketrampilan dalam kepemimpinan di sekolah.
3. Memperluas pengalaman guru
Supervisi harus dapat memotivasi guru-guru untuk
mau belajar dari pengalaman nyata dilapangan. Melalui pengalaman baru ini
mereka dapat belajar untuk memperkaya pengetahuan mereka.
4. Menstimukasi usaha-usaha sekolah yang kreatif
Seorang supervisi harus bisa memberikan stimulus
agar guru-guru tidak hanya berdasarkan instruksi atasan, tetapi mereka adalah
pelaku aktif dalam proses belajar mengajar.
5. Memberi
fasilitas dan penilaian yang terus menerus
Penilaian yang diberikan harus
bersifat menyeluruh dan kontinu. Mengadakan penilaian secara teratur merupakan
suatu fungsi utama dari supervisi pendidikan.
6. Menganalisis situasi belajar mengajar
Tujuan dari supervisi adalah untuk memperbaiki
situasi belajar mengajar. Penganalisisan memberi pengalaman baru dalam menyusun
strategi dan usaha ke arah perbaikan.
7. Memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada
setiap anggota staf supervisi berfungsi untuk memberikan dorongan stimulasi dan
membantu guru agar dapat mengembangkan pengetahuan dalam ketrampilan mengajar.
8. Memberi wawasan yang lebih luas dan terintegrasi
dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar
guru-guru.
D. Prinsip Dasar Supervisi
Menurut Sahertian (2000: 20),
supervisi memiliki prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan sebagai berikut.
1. Prinsip Ilmiah (scientific). Prinsip ini
mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
a. Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data
objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.
b. Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat
perekam data.
c. Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara
sistematis, berencana dan kontinu.
2. Prinsip Demokratis
Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi
harga diri dan martabat guru, bukan berdasarkan atas bawahan, melainkan
berdasarkan rasa kesejawatan.
3. Prinsip Kerja sama
Mengembangkan usaha bersama, atau menurut istilah
supervisi sharing of idea, sharing of experience, memberi support mendorong,
dan menstimulasi guru sehingga mereka merasa tumbuh bersama.
4. Prinsip konstruktif dan kreatif
Setiap guru akan merasa termotivasi dalam
mengembangkan potensi kreatifitas jika supervisi mampu menciptakan suasana
kerja yang menyenangkan, bukan melalui cara-cara yang menakutkan.
E. Teknik-teknik Supervisi Pendidikan
Hariwung
(1989:147) mengatakan “teknik supervisi adalah cara-cara khusus yang digunakan
untuk menyelesaikan tugas supervisi dalam mencapai tujuan tertentu”.
Pada
umumnya teknik-teknik tersebut di klasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu
teknik-teknik individual dan teknik-teknik kelompok. Dalam uraian ini, teknik
teknik tersebut dibedakan menurut klasifikasi yang dimaksud.
1.
Teknik-teknik Individual
a.
Kunjuangan dan Observasi Kelas
Kunjuang
dan observasi kelas seringkali dipandang
sebagai supervisi yang berbeda. Di sini kedua hal tersebut dipandang sebagai
satu kesatuan, karena observasi kelas tidak mungkin dilaksanakan tanpa
kunjungan kelas, jika kelas adalah kegiatan dalam proses belajar-mengajar.
b.
Individual conference
Meskipun
individual converence tidak khusus dilaksanakan setelah observasi kelas, namun
setiap observasi kelas dilaksanakan perlu diikuti oleh suatu insividual
conference khusus. Individual conference bertukuan untuk membantu guru
menganalisis proses belajar mengajar yang silaksanakannya sendiri untuk mampu
melihat kelemahannya secara faktual, menilai, menyimpulkan dan memperbaiki
tugasnya dalam rangka “self evaluation”.
c.
Intervisitation
Intervisitation
adalah kunjungan antar guru-guru di suatu sekolah maupun antar sekolah dalam
rangka belajar dengan jalan saling bertukar
pengalaman tentang tugas mereka.
Pada umumnya, seseorang lebihmudah mempelajari sesuatu dari pengalaman secara
langsung
d.
Self-evaluation
Selaf
evaluation (penilaian diri sendiri) adalah teknik yang menuntut bahwa guru
secara individual sudah memiliki kesadaran profesional tinggi. Ini berarti
bahwa ia sudah memmiliki keberanian untuk
mengakui adanya kelemahan-kelemahan pribadi yang harus diatasi. Ia juga
memiliki pandangan luas tentang kemampuannya yang memungkinkannya mengukur,
menganalisis dan mengevaluasi secara obyektif tugas-tugasnya serta berusaha
menemukann pemecahannya, baik atas kemauan sendiri meupun dengan bantuan
supervisor.
e.
Supervisory Bulletin
Bulletin
adalah media komunikasi yang dikembangkan
sebagai teknik supervisi. Peranan bulletin sebagai teknik supervisi
ditentukan oleh materinya, sifat dan kondisi sekolah secara menyeluruh
f.
Professional Reading
Bacaan
profesional lebih luas lagi daripada sekedar buletin sekolah. Membaca adalah
salah satu cara yang sudah umum sigunakan ileh masyarakat dewasa ini memperkaya
pengetahuan dan pandangan secara individual.
g.
Professioanl Writing
Membuat
karya tulis profesional adalah suatu tingkat pertumbuhan kreatifitas yang
tinggi dan didukung oleh perkembangan yang sudah lanjut.
2.
Teknik-teknik Kelompok
a.
Rapat staff sekolah (Teacher Meeting)
Rapat adalah suatu bentuk komunikasi yang sudah
dikenal oleh setiap lapisan masyarakat. Rapat staf sekolah dikembangkan sebagai
salah satu teknik supervisi pendidikan.
b.
Orientasi Guru Baru
Guru baru meliputi guru-guru yang baru diangkat
menjadi guru, guru yang masih kurang beroengalamanmenjadi guru, guru pindahan dari sekolah lain. Supervisi
memiliki tanggung jawab untuk membantu guru baru yang juga berhak terhadap
bantuan yang diperlukan untuk bekerjadengan sebaik-baiknya.
c.
Curriculum Laboratory
Labolatorium kurikulum menunjukkan kegiatan dan
tempat konstruktif individu maupun kelompok dalam merencanakan dan
mengembangkan kurukulum dipimpin oleh kepemimpinan profesional yang membantu
kegiatan yang dimaksud. Unit seperti ini ada pada tingkat sekolah, kantor
pendidikan di tingkat-tingkat daerah maupun di tingkat pusat dengan lingkup
fungsi masing masing dalam usaha peningkatan, perbaikan kurikulum dengan salah
satu kegiatan penting mengadakan eksperimen dan penelitian.
F. Jenis – jenis Pelayanan Supervisi Pendidikan
1.
Membantu Guru-Guru Dalam Memilih Dan
Mengorganisir Bahan-Bahan Pelajaran
a.
Pembinaan Kurikulum Sebagai Suatu Masalah
Supervisi
Membantu guru-guru membina kurikulum adalah barangkali merupakan
kesempatan terbaik bagi supervisor untuk melayani guru-guru. Penyusunan bahan
pelajaran, sebaiknya merupakan pekerjaan yang kontinyu, bukan sekedar periodik.
Kurikulum, senantiasa memerlukan perbaikan sesuai dengan kebutuhan anak, orang
tua dan masyarakat yang makin hari makin berkembang.Bantuan perlu diberikan
kepada guru-guru dalam usaha pembinaan mata pelajaran. Hal ini disebabkan
karena “pre-service education” yang diperoleh guru-guru dirasa kurang memadai.
“Pre-service training” bagi guru-guru mengenai penyusunan bahan pelajaran tidak
memberi kesempatan untuk mempraktikkan pekerjaan yang lebih kaya misalnya dalam
hal pemilihan buku-buku teks, pengenalan jiwa anak remaja dan pertumbuhannya.
Di samping itu, guru-guru belummemperoleh cukup bekal untuk mengerti
tentang kebutuhan hidup masyarakat. Setelah mereka bekerja, diharapkan
pandangan hidup mereka berubah, lebih mengenal anak dan pertumbuhanya, serta
mampu mempraktikkan pengajaran anak dan pertumbuhanya, serta mampu
mempraktikkan pengajaran yang efektifdengan menggunakan “resource units” dan
buku-buku pelajaran. Untuk itu, guru-guru perlu dibantu dengan
supervisi.Maurine Ahrens,Director of Instruction of the Battle Creek, Michigan
seperti yang di kutip oleh Hendiyat, mengemukakan prinsip-prinsip
pengorganisasian dan pembinaan bahan pelajaran/kurikulum sebagai berikut:
1. Pengembangan
program pengajaran hendaknya melibatkan kelompok dalam perencanaan.
2. Guru
dipandang sebagai orang kunci (key person) dalam setiap pengorganisasi
pengajaran.
3. Sekolah
merupakan unit ideal bagi pengembangan program pengajaran.
4. Pengembangan
kurikulum adalah proses yang kontinyu.
5. Organisasi
pengembangan kurikulum hendaknya dengan dasar filsafat dan tujuan yang jelas.
6. Administrasi
hendaknya melayani pengajaran.
7. Setiap
usaha reorganisasi kurikulum hendaknyamelibatkan para administrator, guru-guru
orang tua dan minat.
8. Organisasi
pembinaan kurikulum hendaknya mencakup program “in-service education”.
9. Replaning
hendaknya tidak meniadakan kesempatan perencanaan para murid.
10. Organisasi
pengembangan kurikulum hendaknya merangsang eksperimentasi danresearch.
11. Organisasi
pengembangan pengajaran hendaknya mencakup “on-going evaluation program”.
b. Membantu
Guru-guru Mengidentifikasi Tujuan Pengajaran
Salah satu tanggung jawab terpenting dari pemimpin pendidikan ialah
mengusahakan agar guru-guru bertumbuh dan mengerti tentang hakekat dan proses
belajar. Untuk itu guru-guru harus mengetahui tujuan pengajaran bagi
murid-murid. Guru-guru hendaknya menyadari, bahwa mata pelajaran adalah sebagai
alat untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam rangka berpartisipasi dalam
perencanaan mata pelajaran, guru-guru hendaknya disamping mengetahui perubahan
kondisi kehidupan masyarakat, juga menyadari adanya permasalahan dan
tuntutan-tuntutan hidup yang menyebabkan perubahan-perubahan.Dalam membina mata
pelajaran, guru-guru hendaknya berkesempatan dan mampubekerja menurut
kreatifitas dan manajemen mereka sendiri. Itulah sebabnya, mereka perlu dibantu
mengidentifikasi tujuan pengajaran.
c.
Membantu guru-guru Menggali dan Mengembangkan
Bahan Pelajaran
Sudah lazim, bahwa guru-guru dalam merencanakan aktivitas dan
pengalaman belajar menggunakan buku-buku teks, perpustakaan dan bahan-bahan
laboratories. Akhir-akhir ini ada kemajuan dalam praktik untuk menstimulir
kehiatan-kegiatan belajar dalam situasai-situasi yang memberikan
pengalaman-pengalaman belajar. Kegiatan ini tidak hanya terbukti dengan
meningkatnya penggunaan “visual aids”, tetapi juga meningkatnya usaha
memanfaatkan serta mempelajari masyarakat, organisasinya, metode pengembanganya
serta permasalahanya. Mempelajari masyarakat bukan hanya melalui buku, famplet,
surat kabar dan sebagainya, tetapi juga membawa murid-murid untuk mengunjungi
dan berpartisipasi di dalam kegiatan masyarakat.Dalam hubunganya dengan
penyusunan mata pelajaran, guru dapat menggunakan orang-orang dari masyarakat
sebagai “resourcepersons” yang bekerja bersama guru memberi pengalaman belajar
kepada murid-murid.Untuk menyajikan bahan pelajaran, sering guru tidak
menyadari adanya ”fallacies” atau verbalisme. Dalam hal ini, bantuan supervisor
untuk menghindari “fallacies” sangat diperlukan.
d.
Membantu Guru-guru Memilih Textbooks
Pembinaan kurikulum pada kebanyakan sekolah sebagian besar bertalian
dengan pemilihan dan penyesuaiantextbooks, pemilihantextbooksmenjadi hal yang
terpenting bagi penyajian mata pelajaran.Para partisipator reorganisasi suatu
pelajaran atau memilih buku-buku teks harus memahami teori, ilmu pengetahuan
dan praktik pendidikan.Kriteria untuk mengevaluasi mata pelajarn atautextbooks:
1. Topik-topik
atau unit-unit bahan hendaknya sesuai dengan tujuan sekolah dan tujuan mata
pelajaran.
2. Topik
mengandung sumbangan terhadap tujuan mata pelajaran dan ukuran kesulitan serta
prasarat bagi topik atau mata pelajaran lain.
3. Valid
4. Memenuhi
prinsip-prinsip belajar mengajar.
5. Memperhatikan
content, struktur kalimat, vocabulary, dan stytle dari pada murid
6. Urutan
bahan memperhatikan:a)pengenalan ide-ide barub)tingkat kesukaranc)logisd)dapat
dihubungkan dengan topic-topik lain
7. Disesuaikan
dengan taraf kemampuan murid.
8. Memberi
kesempatan untuk diagnosa dan penyembuhan kesulitan belajar.
9. Mengusahakan
kedekatan materi dengan tingkat/kelas-kelas lainya.
10. Menantang
dan menggairahkan belajar.
11. Dilengkapi
dengan appendix, indeks, glossaries footnotes, section, paragraph heading,
ilustrasi dan lain-lain.
12. Memungkinkan
transfer pada pelajaran atau situasi lain.
13. Memelihara
minat siswa.
14. Penilaian
terhadaptextbooksdapat menggunakan “check lists”.
e.
Membantu Guru-guru Mempelajari Murid-murid Dan
Kebutuhan Mereka
Pemilihan organisasi dan penggunaan bahan pelajaran harus disesuaikan
dengan keadaan murid. Oleh karena itu, guru harus mengetahui bagaimana
murid-murid belajar dan bertumbuh.Guru-guru perlu dibantu untuk mengenal
perbedaan individual murid-murid dan dalam hal menghargai perbedaan itu.
Perbedaan individu murid dapat menyangkut pengalaamn dan prestasi belajar
sebelumnya, status, minat, temperamen, cita-cita, dan lain-lain
f.
Personalia dan Organisasi Penyusunan Bahan
Pelajaran
Dalam usaha penyusunan bahan pelajaran dapat digunakan konsultan
ataupun “curriculum leaders”, baik dari para administratormaupun supervisor.
Mereka dapat menyarankan suatu prosedur atau membentuk panitia, serta mengikut
sertakan guru-guru untuk menyusun bahan pelajaran.Tugas-tugas daripada
“curriculum leaders” antara lain:-membantu guru-guru menggunakan metode
mengajar.-Bertindak sebagai penengan antara dewan gurudan kantor
Pembina.-Bekerja dengan panitia pengajaran dan dewan guru dalam perencanaan dan
pembinaan programpengajaran.-Mengkoordinir pelayanan-pelayanan fisik misalnya
audiovisual aids, ruang evaluasi, bahan pelajaran, ruang bimbingan dan
lain-lain.-Membantu guru-guru dalam menggunakan pelayanan-pelayanan masyarakat.-Bersama-sama
guru merencanakan pengajaran unit dan bahan-bahan lain untuk pelajaran di
kelas.-Pengadaan guru-guru baru.-Bersama-sama dewan guru panitian pengajaran
merencanakan artikulasi dengan sekolah-sekolah lain.-Mengkoordinir keseluruhan
program sekolah.Penyusunan bahan pelajaran ini dapat pula mengikut sertakan
orang-orang awam, di mana guru-guru dan para supervisor dapat bertukar pendapat
dan pengalaman dengan mereka.
g.
macam-macam “Inservic Action”
Dalam hubunganya dengan pembinaan mata pelajaran, ada bermacam-macam
“in-service activities”, antara lain:
1.
Penempatan guru-guru baru; sebelum guru-gurubaru
mulai bekerja, kepada mereka dapat diberikan orientasi sekolah/tugas atau
diperbantukan kepada seorang guru senior terlebih dahulu.
2.
Pre-sessiondanpost-session plannings; pada awal
atau akhir tahun ajaran, guru-guru dapat diberti penyegaran selama satu atau
dua mingguuntuk meningkatkan pertumbuhan mereka.
3.
Workshop; kesempatan bagi guru-guru untuk
mempelajari permasalahan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan mereka
dalam kondisiyang demokratis tanpa memandang organisasi dan prosedur-prosedur
kelas yang konvensional.
4.
Pelayanan konsultan; pelayanan dari orang yang
ditunjuk memberikan bantuan kepada guru-guru mengatasi permasalahan yang
merekahadapi.
2. Membantu
Guru-Guru Menyesuaikan Pengajaran Dengan Perbedaan Individual.
a. Membantu
Guru-Guru Menyadari Adanya Perbedaan di Antara Murid-Murid
Selama ada usaha menyesuaikan pengajaran dengan perbedaan individual,
dan usaha itu memerlukan informasi tentang perbedaan tersebut, maka bantuan
kepada guru-guru dapat diberikan. Pengumpulan data tentang ciri-ciri
masing-masing anak untuk mengetahui tingkat dan jenis perbedaan individual
murid. Beberapa databerikut sangat berguna untuk mengenal perbedaanmurid-murid:
1.
Latar belakang keluarga, pekerjaan ayah,
pendidikan orang tua, tingkat ekonomi dan kultural keluarga, dan sebagainya
mempegaruhi minat orang tua dan anak terhadap sekolah serta tipe-tipe belajar
anak; skor-skor skala sosiometri.
2.
Pengalaman dan minat-minat; pekerjaan, kesenangan
dan pengalaman/minat-minat lainyadi luar sekolah; cita-cita informasi yang
terkumpul dari observasi kegiatan; ambisi-ambisijabatan.
3.
Tingkat intelektual: skor-skor tes inteligensi.
4.
Status pendidikan: skor-skor tes prestasi berstandar
atau tes-tes obyektif buatan guru yang valid danreliable.
5.
Aptitudes tes: skor-skor tesvocational
aptitudemisalnya teknik mesin, musik, ketata usahaan, bahasa, dan matematik.
6.
Kebiasaan dan ketrampilan belajar: skor-skor tes
kemampuan membaca berbagai bidang, tes-tesvocabulary, tes ketrampilan belajar,
dan observasi kebiasaan belajar murid-murid.
7.
Sifat-sifat kepribadian: skor-skor
dariscales,inventoriesatau tes-tes pengukur kepribadian, stabilitas emosi,
kematangan social, dan sifat-sifat lainya.
8.
Sifat-sifat jasmani: ukuran kesehatan,
cacat-cacat jasmani melalui tes-tes pisik dan medis. Data di atas sebaiknya
tersimpan di sekolah, misalnya dalam bentuk cumulative records. Guru-guru perlu
dibantu untuk menyadari adanya perbedaan individual pada murid-murid. Kepala
sekolah dan supervisor dapat memberikan instrument serta penjelasan tentang
metode pengumpulan informasi kepada guru-guru. Bilamana perlu, supervisor dan
kepala sekolah memberikan guru-guru. Bilamana perlu, supervisor dan kepala
sekolah memberikan data kepada guru-guru mengenai perbedaan individual anak.
Guru-guru dapat pula memperoleh data dari kantor-kantor pendidikan. Manfaat dat
bagi guru-guru ialah antara lain:-membantu penempatan murid-murid yang
berprestasi kurang-menentukan murid-murid mana yang memerlukan bantuan
khusus.-Memberi dasar pelayanan konseling. Memberi bahan untuk individual
conferences mengenai permasalahan yang dihadapi murid-Menjadi bahan untuk
diagnosa dan penyembuhan kesulitan belajar muridGuru-guru harus dapat menginterpretasi
data tentang murid-murid. Mereka ingin mengetahui penggunaan masing-masing tes,
validitas dan reliabilitanya. Untuk ituguru-guru memerlukan bantuan untuk
mempelajari bagaimana menginterpretasikan data serta dapat mengatasi
permasalahan perbedaan individual. Bantuan tersebut dapat diberikan melalui
conferences dimana mereka dapat mempraktikkan cara mempertimbangkan informasi
tentang murid-murid tertentu.
b.
Mengembangkan cara-cara Pemecahan Masalah-masalah
perbedaan individual
Rapat-rapat dewan guru hendaknya diadakan untuk membicarakan masalah
perbedaan individual murid. Beberapa usaha berikut ini dapat dipertimbangkan:
1.
Pemberian berbagai macam tugas menurut kemampuan
dan prestasi.
2.
Pemberian pre-testing dan penyesuaian kegiatan
awal belajar.
3.
Pengikut sertaan murid di dalam perumusan tujuan.
4.
Pemberian bahan pelajaran menurut perbedaan
kemampuan.
5.
Pengadaan homogeneous grouping, penyesuaian isi
pelajaran dengan tingkat kemampuan anak.
6.
Penggunaan metode laboratories dalam pengajaran.
7.
Pengembangan pengajaran tentang bagaimana
belajar.
8.
Pelaksanan tes diagnostic dan pengajaran
remedial.
c.
Penggunaan Pengajaran Diagnostik dan Remedial
Untuk Memecahkan masalah-masalah Perbedaan Individual. Guru-guru
memerlukan pengetahuan dan ketrampilan menggunakan tes dan pengajaran
diagnostic yang komprehensif, reliabledan obyektif. Untuk itu, mereka
membutuhkan waktu, training dan praktik. Kebutuhan yang sama dimiliki oleh
gru-guru dalam rangka pengajaran remedial. Supervisor yang bijaksana akan
membantu guru-guru menggunakan tes-tes diagnostic yang hasilnya dapat diapakai
untuk “reteach”. Sering guru-guru kurang mampu menyusun tes diagnostic atau
mendiagnosa kesulitan belajar murid karena kurang mampu menganalisa bahan
pelajaran. Para supervisor dapat membantu guru-guru tersebut untuk menganalisa
bahan pelajaran, sehingga guru-guru mampu menemukan sebab-sebab keagagalan
belajar.
Dengan diketahuinya sebab-sebab kegagalan belajar, maka guru-guru akan
mampu melaksanakan pengajaran remedial. Penyusunan tes-tes diagnostic memerlukan
banyak ruang untuk treatment. Professional librarypada sekolah lanjutan
hendaknya berisi references yang membantu guru-guru dalam menyusun dan
menginterpretasi test diagnostic. Kegagalan untuk mengetahui sebab-sebab
kesulitan murid dalam belajar merupakan sebab lain dari ketidak mampuan
guru-guru dalam menggunakan tes-tes diagnostic. Ada beberapa sebab kegagalan
murid dalam belajar: kurangnya pengetahuan umum, kurangnya latihan, kurang
tepatnya teknik belajar, kurang jelasnya pelajaran, kurang minat dan
faktor-faktor lingkungan rumah/keluarga. Guru-guru harus melengkapi hasil tes
diagnostic mereka dengan informasi dari sumber-sumber lain, misalnya skortes
intelegensi, school records dan observasi guru terhadap kebiasaan belajar,
sikap, minat, pengaruh lingkungan dan keadaan jasmani murid-murid. Guru-guru
harus dibimbing untuk meneliti usaha-usaha pengajaran mereka.
d.
Membantu Guru-guru Dalam Pengajaran
Kelompok-kelompok Homogen
Ada sekolah-sekolah yang mengelompokkan murid secara homogen
menuruttingkat-tingkat kemampuan murid. Ide pengelompokan timbul karena
pengenalan tingkat-tingkat kemampuan murid dalam kelas-kelas heterogen.
Murid-murid yang mempunyai kemampuan hampir sama dikelompokkan dalam satu
kelompok secara homogen. Bukti-bukti eksperimental menunjukkan,bahwa pengajaran
terhadap murid-murid dengan pengelompokkan secara homogen berhasil lebih baik
daripada terhadap kelompok heterogen. Permasalahan mengenai pengelompokkan
antaralain:-pengelompokkan hanyalah belum sepenuhnya merupakan cara pengajaran
yang paling tepat, karena sering terjadi penempatan murid secara salah.-Ada
kritik, pengelompokkan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan emosi, terutama
pada anak-anak pada kelopok si lamban-Grouping hanya mudah dilaksanakan pada
sekolah-sekolah yang besar daripada sekolah-sekolah kecil.Guru-guru harus
menyadari, bahwa pengelompokkan hnayalah cara administrative dalam rangka
pelayanan belajar murid-murid yang berkemampuan relative homogen. Mereka harus
menyadari, meskipun menghadapi homogenous grouping, namun murid-murid pada
tiap-tiap kelompok tetap heterogen.
3.
Membina Bimbingan Belajar Murid-Murid
1.
Perlunya Pembinaan Bimbingan Belajar
Guru-guru dan para pendidik yang progresif telah menyadari pentingnya
teknik dankebiasaan belajar murid-murid. Di lain pihak terdapat kecenderungan
murid-murid sekolah menengah untuk melaksanakan belajar terpimpin.Kebutuhan
akan belajar terpimpin ini antara lain disebabkan karena banyaknya jumlahmurid
yang secara relative bertaraf mental rendah.
a.
Adanya keinginan mengembangkan kebiasaan belajar
untuk mencapai kemampuan intelek yanglebih tinggi.
b.
Kurang memadainya bentuk-bentuk
pengajaran.Guru-guru mengakui kurangnya persiapan mereka untuk membibing
belajar murid. Mereka kurang mampu mendiagnosa sebab-sebab kegagalan belajar
murid, kurangnyapengetahuan tentang psikologi belajar, gagalnyapelaksanaan
pengajaran yang efektif. Disinilah kesempatan bagi supervisor untuk membantu
gru-guru membimbing belajar murid.
2.
Mendiagnosa permasalahan Murid dalam Belajar
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan murid dalam belajar.
Faktor-faktor tersebut antara lain ialah:
a.
Pengertian tentang tugas yang dipelajari
b.
Pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan
teknik-teknik belajar.
c.
Pengetahuan dan kemampuan menggunakan alat-alat
belajar
d.
Ketrampilan belajar foundamental, misalnya
kemampuan membaca, membuat outline, atau meringkas.
e.
Kemampuan intelek murid.
f.
Sikap murid terhadap pelajaran, guru, atau
sekolah.
g.
Prestasi dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang
berkaitan.
h.
Kondisi pisik murid.
i.
Lingkunagn belajar.
j.
Jadwal belajar murid.
k.
Kondisi dan latar belakang rumah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Supervisi merupakan
“ serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan
profesional yang diberikan oleh supervisor ( Pengawas sekolah, kepala sekolah,
dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar.
Karena supervisi atau pembinaan guru tersebut lebih menekankan pada pembinaan
guru tersebut pula “Pembinaan profesional guru“ yakni pembinaan yang lebih
diarahkan pada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan profesional guru.
Daftar Rujukan
Sahertin,
Piet A. 2000. Konsep-Konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Jakarta: Rineka Cipta
Supandi,
1996. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Departemen Agama Universitas Terbuka
Hariwung,
A J. 1989. Supervisi Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi
Hasbullah.
2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Nice article :)
BalasHapusBagus sangat bermanfaat, terimakasih
BalasHapusIsinya sudah bagus dan bisa di jadikan referensi bagi pendidik yg akan melakukan supervisi ^^
BalasHapussukses selalu sebagai penulis
BalasHapus