PEMANFAATAN POTENSI URIN SEBAGAI SUMBER LISTRIK BARU



BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju,membuat kebutuhan akan energi semakin meningkat. Hal tersebut membuat energi  memi-liki peran yang penting dalam kehidupan manusia. Berdasarkan sifatnya sumber daya alam sendiri dibagi menjadi dua yaitu sumber daya alam yang dapat diper-barui dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Sumber daya alam yang dapat diperbarui meliputi air, oksigen, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Sedangkan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui meliputi batu bara, minyak bumi, nikel, logam, aluminium, kobalt,dan lain lain.

Selama ini energi dihasilkan dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, misalnya Batu bara yang lama kelamaan akan habis. Hal ini meng-akibatkan cadangan energi kita akan menipis. Saat ini banyak cara yang diguna-kan untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbarui. Contohnya Gelombang air laut untuk pembangkit listrik tenaga air, aliran pada turbin sungai dimanfaatkan sebagai penghasil gerak untuk pembangkit listrik, dan lain-lain.
Selama ini kita hanya terpaku pada sumber daya energy yang itu itu sja, hal ini membuat saya memiliki inovasi baru untuk menghasilkan energy dari konsumen energy sendiri yaitu manusia. Manusia tiap harinya akan melakukan proses ekskresi dimana pada proses ini dapat melalui kulit atupun saluran pembuangan proses ekskresi melalui saluran pembuangan terdiri yaitu urin dan fases. Kali ini inovasinya adalah PEMANFAATAN POTENSI URIN SEBAGAI SUMBER LISTRIK BARU”.


B.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini antara lain:
1. Apakah urin manusia mempunyai potensi untuk dijadikan sumber listrik?
2. Bagaimanakah proses pemanfaatan urin sebagai sumber listrik?



C.  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Mengetahui adanya potensi listrik di dalam urin.
2. Menjelaskan proses pemanfaatan urin sebagai sumber listrik.


























BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A.    Kandungan Zat dalam Urine
Urine  adalah salah satu hasil dari sistem ekskresi pada manusia. Urine dihasilkan oleh ginjal melalui penyaringan darah. Urine harus dikeluarkan dari tubuh. Jika tidak, maka urine itu akan meracuni tubuh. Sama halnya dengan sampah yang harus dibuang atau feses yang harus dibuang. Urine adalah zat-zat buangan atau zat dengan konsentrasi yang berlebih. Nah, berikut adalah zat yang terkandung dalam urine. Langsung saja kita simak yang pertama:
1.       Air. Kandungan air dalam darah dikeluarkan dari tubuh jika konsentrasinya terlalu tinggi.
2.       Empedu. Berasal dari hasil perombakan sel darah merah di hati dan memberi warna kekuningan pada urine.
3.       Garam. Garam dikeluarkan untuk menjaga konsentrasi garam di darah supaya tidak berlebih.
4.       Urea (9,3 g/L). Merupakan hasil dari perombakan protein.
5.       Asam urat. Merupakan hasil dari perombakan protein.
6.       Amonia. Merupakan hasil dari perombakan protein. Amonia memberi bau pada urine.
7.       Obat-obatan. Obat-obatan dibuang supaya tidak menjadi racun dalam tubuh. Itulah sebab mengapa sehabis minum obat urine kita menjadi berbau seperti obat.
8.       Asam klorida (1,87 g/L)
9.       Sodium (1,17 g/L)
10.   Potasium (0,75 g/L)
11.   Gula. Gula ditemukan pada urine penderita diabetes dan tidak akan ditemukan pada urine orang yang sehat.
12.   Nitrogen
13.   Fosfor
14.   Kreatinin (0,67 g/L)
15.   Asam sulfat



B. Sumber Listrik
1. Pengertian Sumber Listrik
Sumber listrik adalah suatu alat yang dapat menghasilkan listrik. Contohnya seperti, dinamo, aki(akumulator), dan baterai (Marthen Kanginan, 2006: 274).

2. Komponen Listrik
Di dalam sumber listrik terdapat suatu rangkaian listrik. Rangkaian listrik tersebut terdiri dari beberapa komponen listrik, yaitu hambatan, tegangan dan arus listrik.
a.    Hambatan Listrik
Hambatan listrik merupakan alat yang digunakan untuk menghambat aliran arus listrik. Hambatan dalam rangkaian listrik berfungsi untuk mengatur kuat arus, mengatur tegangan, dan membagi potensial listrik. Beberapa hambatan dapat disusun secara seri maupun paralel. Suhu dapat mempengaruhi besarnya hambatan dalam suatu panghantar. Secara umum, untuk kawat-kawat logam, makin besar suhu makin besar hambatan listriknya (Marthen Kanginan, 2006: 278). Tetapi untuk kebanyakan logam paduan, misalnya konstantan hambatannya hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan suhu. Selain suhu tersebut, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hambatan seutas kawat listrik, antara lain:
1.              Jenis bahan kawat penghantar
2.              Panjang kawat penghantar
3.              Luas penampang kawat penghantar
Dari faktor-faktor tersebut dapat dibuat persamaan untuk menghitung hambatan listrik suatu penghantar, yaitu sebagai berikut:
Keterangan:
R       = Hambatan Listrik (Ω)
        = Hambatan Jenis Kawat (Ωm)
L        = Panjang Kawat (m)
A       = Luas Penampang (m2)

b.   Tegangan Listrik
Tegangan sering juga disebut dengan beda potensial. Beda potensial adalah besarnya energi yang digunakan untuk mengalirkan setaip Coulomb muatan listrik. Arus listrik dapat mengalir dalam kawat penghantar nilai antara ujung-ujung kawat itu ada beda potensialnya. Alat yang dapat menghasilkan beda potensial disebut sumber tegangan listrik atau sumber arus listrik. Beda potensial dapat dirumuskan sebagai berikut:
V=
Keterangan:
V       = Beda Potensial/Tegangan (V)
W       =Energi Listrik (J)
Q       =Muatan Listrik (C)
Alat untuk mengukur beda potensial atau tegangan adalah voltmeter. Cara pemasangan voltmeter dalam pengukuran beda potensial antar dua titik, voltmeter dihubungkan secara paralel diantara dua titik yang akan diukur beda potensialnya (Tim MGMP Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kabupaten Situbondo, 2009: 42).

c.    Kuat Arus Listrik
Kuat arus listrik adalah banyaknya atau jumlah muatan listrik yang mengalir melalui suatu penghantar tiap satuan waktu (Tim MGMP Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kabupaten Situbondo, 2006: 35). Arus listrik mengalir dari potensial tinggi (positif) ke potensial rendah (negatif) yang disebut dengan arus konvensional (Siswanto dan Sukaryadi, 2006: 167). Sebaliknya, elektron mengalir dari potensial rendah ke potensial tinggi. Arus listrik hanya dapat mengalir pada rangkaian tertutup yang di dalamnya terdapat sumber tegangan. Arus listrik sebenarnya ditimbulkan oleh elektron yang bergerak pada penghantar. Arah aliran arus lisrik berlawanan dengan arah aliran elektron (Tim MGMP Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kabupaten Situbondo, 2006: 35). Berdasarkan Hukum Ohm besarnya kuat arus listrik yang melewati suatu penghantar bergantung pada beda potensial antara ujung-ujung penghantar tersebut (Istiyono Edi, 2007: 200) atau sering ditulis:
V = I X R
          Keterangan:
          V = Tegangan listrik (V)
          I = Kuat Arus Listrik (A)
          R = Hambatan listrik (Ω)
Alat yang dapat menghasilkan arus listrik secara terus-menerus disebut sumber tegangan. Sumber tegangan listrik memiliki Gaya Gerak Listrik (GGL), atau lebih tepatnya Potensial Penggerak Listrik (PPL). Ada beberapa syarat terjadinya arus listrik, (Tim Penyusun Modul Siswa Aspirasi, 2006: 50) antara lain, adanya sumber tegangan, adanya konduktor/kabel, dan adanya rangkaian tertutup
Arus yang mengalir pada suatu konduktor diukur dengan menghu-bungkan alat pengukur arus yang disebut amperemeter. Cara mengukurnya yaitu dengan memasang rangkaian secara seri (Siswanto dan Sukaryadi, 2009: 167)


























BAB III

METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode uji coba terhadap objek penelitian yaitu urin. Untuk mengetahui kebenaran adanya potensi sumber listrik dalam urin.

B.  Alat dan Bahan
1. Alat
- 3 buah multimeter digital beserta kabel
- 6 buah penjepit buaya
- Gunting seng
- Silet
2. Bahan
- 1 buah kabel  tembaga
- 1 buah seng berukuran
- 1 buah tabung plastic
- Air tawar

C.      Langkah-langkah Percobaan
a.    Menyiapkan bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan untuk uji coba.
b.    Menggunting seng dengan ukuran 3cmx7cm sebanyak 2 buah dengan menggunakan gunting seng. Kemudian potong kabel tembaga dengan ukuran 15 cm dengan jumlah yang sama dengan banyaknya seng lalu lepaskan tembaga yang berada didalamnya dengan menggunakan silet.
c.    Menyambungkan tembaga dan seng dengan cara dilas menjadi satu. Ujung tembaga disatukan dengan bagian tengah atas seng.
d.   Menuangkan 28 ml urin kedalam tabung plastik.
e.    Memasang kabel multimeter yang telah diberi penjepit buaya pada salah satu bagian yang berupa seng dan sisanya pada bagian yang berupa tembaga pada tempat yang berlainan. Dan pastikan posisi kabel tidak tertukar
f.     Mengatur multimeter sesuai dengan yang dibutuhkan. Bisa digunakan untuk mengukur hambatan, tegangan dan arus listrik.
g.    Memasukkan kedua seng dan tembaga yang telah disatukan secara bersamaan.
h.    Mengatur posisi kedua seng dan tembaga dengan benar. Posisi seng dan tembaga pertama adalah dengan menempatkan bagian yang berupa seng ke dalam tabung plastik sementara bagian yang berupa tembaga di luar tabung plastik. Posisi kedua yaitu dengan menempatkan bagian yang berupa tembaga ke dalam tabung plastik sementara bagian yang berupa seng di luar tabung plastik.
i.      Memastikan posisi kedua seng dan tembaga yang berada di dalam air tidak saling bersentuhan
j.      Melihat hasil pengukuran dari multimeter tersebut.



Komentar

Posting Komentar