v Spesifikasi Teknis Radio
AM di Indonesia
Persyaratan Teknis
Tabel 1.1 Parameter Teknis Radio AM
yang Digunakan dalam Perancangan Frekuensi
a.
Pita
Frekuensi Kerja
Pita frekuensi
kerja adalah daerah kerja frekuensi pemancar radio. Pita frekuensi yang digunakan
untuk AM adalah 526,5
KHz s/d 1606,5 KHz
b.
Daya
Keluaran Pemancar
Daya keluaran
pemancar adalah daya
gelombang pembawa (carrier power) dari suatu pemancar yang dikeluarkan penguat
akhir. Perangkat Radio Siaran (AM) dengan Daya Keluaran Pemancar maksimum yang
diperolehkan sebesar 2500 Watt. (Daya pancar tergantung lokasi pemancar dan berdasarkan izin
yang ditetapkan)
c.
Modulasi
Modulasi yang digunakan untuk
perangkat Radio Siaran adalah Amplitude Modulation (AM). Dimana amplitudo
modulation adalah mode siaran radio dimana amplitudo sinyal pembawa di
variasikan secara proposional berdasarkan sinyal pemodulasi (sinyal informasi),
sedangkan frekuensi sinyal pembawa tetap konstan.
d.
Siaran
Perangkat Radio Siaran AM harus dapat menghasilkan
siaran Mono. Dimana mono
adalah saluran audio tunggal.
e.
Stabilitas
Frekuensi
Stabilitas frekuensi ini digunakan untuk menstabilkan
fekuensi gelombang pembawa yang berubah-ubah. Stabilitas Frekuensi pada Pesawat Radio Siaran di
indonesia sebesar ± 0.005% pada temperatur (5 s/d 50)0C.
f.
Impedansi
RF
Impedansi adalah
hambatan yang digunakan pada pemancar radio. Impedansi perangkat
Radio Siaran di indonesia adalah 50Ω (Coax).
g.
Temperatur
Ruang
Temperatur ruang
adalah Suhu dari media sekitarnya yaitu dari gas atau cairan.Perangkat Radio
Siaran harus dapat bekerja/beroperasi denganbaik pada kondisi iklim tropis
dengan temperatur ruang yangmempunyai suhu (5 s/d 45)0C dan kelembaban 20% s/d
85%.
h.
Emisi
Tersebar
Selisih maksimum daya
keluaran gelombang pembawa dari setiap. Emisi Tersebar pada perangkat Radio
Siaran AM adalah 40 dB.
v
Klasifikasi
AM
a.
Frekuensi 526,5-1606,5 kHz (termasuk
MF=Medium Frequency), dikenal sebagai "band siaran standar dengan jarak antar kanal 9 kHz
b.
Panjang gelombang atau
amplitudo AM adalah 1600 KHz – 30000 KHz.
c.
Gelombang Menengah adalah 531-1,611 kHz,
gelombang pendek adalah sekitar 2,3-26,1 MHz
d.
Frekuensi carrier untuk siaran AM terletak di
Medium Frequency (300 kHz – 3 MHz/MF)
e.
Jangkauan siaran dengan frekuensi ini
lebih jauh (200 km) dan biaya untuk pemancar AM lebih murah.
f.
Kelebihan AM : sinyal dapat berubah menjadi
suara dengan peralatan sederhana. Jika sinyal cukup kuat, bahkan tidak
dibutuhkan sumber daya khusus, dan dapat diterima dengan sebuah penerima radio
kristal sederhana tanpa catu daya sama sekali (mungkin beberapa pembaca pernah
mengalami proyek radio kristal di masa kecil).
g.
Kelemahannya: dapat terganggu oleh gangguan
atmosfir, bandwith yang sempit juga
membatasi kualitas suara yang dapat disampaikan oleh kegiatan broadcasting
radio.
Ø Klasifikasi
MW dan SW
1. Medium wave (MW)
Gelombang
ini tidak bisa menembus atmosfer, bahkan pada bagian Ionosfer. Gelombang
tersebut dipantulkan kembali sehingga informasi yang dibawa gelombang
bisa menuju tempat yang jauh dari pemancar.Gelombang
yang menggunakan permukaan bumi sebagai mediator.Keuntungan dari gelombang ini
adalah Permukaan bumi kurang dipengaruhi cuaca sehingga tidak terjadi noise.
Mutu penyiaran lebih bagus dalam kualitas suara dan sound effect. Kerugian dari
gelombang ini adalah Tanah menyerap gelombang lebih cepat daripada udara yang
menyebabkan jarak jangkauan siaran lebih sempit sehingga memerlukan booster. Mediumwave bekerja pada frekuensi 300 kHz – 3 MHz dengan
panjang gelombang : 1 km – 100 m.
2. Shortwave (SW)
Shortwave atau
gelombang pendek biasanya digunakan stasiun penyiaran untuk mencapai jarak yang
sangat jauh.Sinyal pada saluran SW dikirimkan menempuh jarak yang sangat jauh dengan
mengunakan gelombang udara (sky waves) yang berada pada lapisan
ionosphere. Namun karena ionosphere terdiri atas sejumlah lapisan udara yang
selalu berubah-ubah maka frekuensi SW menjadi tidak stabil pula. Frekuensi yang
sebelumnya diterima jelas pada pukul 10.00 pagi bisa tidak terdengar lagi pada
pukul 16.00 sore. Namun kini, perkembangan teknologi memungkinkan melakukan
prediksi terhadap perubahan ionosphere ini.
Pola gerakan ionosphere ternyata
dapat diperkirakan berdasarkan pengalaman yang dikombinasikan dengan teori
propagasi (teori arah penyebaran sinyal frekuensi). Karenanya tiang transmisi
pada stasiun yang menggunakan saluran SW memiliki beberapa antena. Setiap
antena bertugas mengirimkan sinyal dengan frekuensi yang berbeda-beda pula. Setiap
sinyal melalui suatu pengatur (switcher) yang menunjukkan jalan ke
antena mana yang akan digunakan untuk mengirim pesan tersebut, sesuai dengan
kondisi ionosphere saat itu. Selain itu, antena stasiun SW adalah antena
langsung sehingga dapat memancarkan sinyal ke tujuan tertentu.Shortwave (Sw) bekerja pada Frekuensi
3,000–30,000 kHz (termasuk kategore HV=High
Frequency) dan memiliki panjang gelombang
: 100 - 10 meter (semakin tinggi frekuensi, semakin pendek panjang
gelombangnya). Berikut bandwidth
penerima AM (SW1, SW2, SW3, SW4) :
a. SW1
- 5.5 to 6.5 MHz
b. SW2
- 7.0 to 8.0 MHz
c. SW3
- 9.0 to 10.0 MHz
d. SW4
- 11.5 to 12.5 MHz
e. SW5
- 14.0 to 15.0 MHz
f. SW6
- 15.0 to 16.0 MHz
Rujukan
:
1.
http://www.postel.go.id/downloads/40/20150302021438-No_4_Thn_2015.pdf
(diakses 19.08 WIB,16 Februari 2017)
2.
http://www.academia.edu/16853833/Spektrum_Radio_dan_Pengalokasiannya_di_Indonesia (diakses
19.05 WIB,16 Februari 2017)
3.
https://denysetia.files.wordpress.com/2011/09/alokasi-frekuensi-edisi-2-januari-2010.pdf (diakses
18.47 WIB,16 Februari 2017)
4.
http://id.fmuser.org/FM-Radio/SW-broadcasting-what-kind-of-modulation-AM-or-FM.html (diakses
18.52 WIB, 16 Februari 2017)
5.
http://teknikelektronika.com/pengertian-spektrum-frekuensi-radio-pengalokasiannya/
(diakses 18.45 WIB, 16 Februari 2017)
http://mahdiadahlan.blogspot.com/2013/11/frekuensi-radio-gelombang-pendek-sw.html (diakses 18.49 WIB, 16 Februari 2017)
Komentar
Posting Komentar