Kestabilan sistem tenaga listrik
didefinisikan sebagai kemampuan dari sistem untuk menjaga kondisi operasi yang
seimbang dan kemampuan sistem tersebut untuk kembali ke kondisi operasi normal
ketika terjadi gangguan. Sedangkan ketidakstabilan sistem dapat terjadi dalam
berbagai bentuk, tergantung dari konfigurasi sistem dan model operasinya.
Sistem akan masuk pada kondisi ketidakstabilan tegangan ketika
terjadi gangguan, peningkatan beban atau pada saat terjadi perubahan kondisi
sistem yang disebabkan oleh drop tegangan yang tidak terkontrol.
Penyebab utama ketidakstabilan tegangan
adalah ketidak mampuan sistem tenaga untuk memenuhi permintaan daya
reaktif. Inti dari permasalahan ini biasanya berhubungan dengan susut
tegangan yang terjadi pada saat daya aktif dan daya reaktif mengalir melalui
reaktansi induktif pada jaringan transmisi. Secara mendasar masalah kestabilan
berarti menjaga sinkronisasi operasi sistem tenaga. Kestabilan pada sistem
tenaga listrik merupakan masalah yang sangat penting dalam penyediaan daya
kepada konsumen. Masalah kestabilan yang sering terjadi disini adalah masalah
beban lebih, berkurangnya pasokan daya reaktif yang pada akhirnya akan
menempatkan sistem pada kondisi voltage collapse dan akan terjadi
kemungkinan terburuk yaitu terjadinya blackout. Kestabilan tegangan
biasanya termasuk saat terjadi gangguan besar ( termasuk kenaikan beban /
transfer daya yang sangat besar ). Tegangan akan mengalami osilasi, dan terjadi
ketidakstabilan sistem kontrol. Ketidakstabilan ini bisa terjadi akibat nilai
gain pada statik var kompensator yang terlalu besar, atau deadband pada
tegangan yang mengatur shunt capacitor bank yang terlalu kecil. Maka
dibutuhkan suatu voltage security, yaitu kemampuan sistem, tidak hanya
untuk beroperasi secara stabil, tetapi juga stabil saat kondisi terburuk atau
saat terjadi kenaikan beban.
Stabilitas sistem tenaga telah menjadi
perhatian utama dalam sebuah sistem operasi. Perhatian itu muncul dari fakta
bahwa pada kondisi keadaan mantap (steady-state), kecepatan rata-rata
untuk semua generator harus sama. Kondisi tersebut dinamakan pada operasi
sinkron dari sebuah sistem yang terinterkoneksi. Gangguan
kecil atau besar pada sistem tenaga berdampak pada operasi sinkron. Sebagai
contoh, kenaikan atau ketrurunan tiba-tiba pada beban , atau akibat rugi
pembangkitan menjadi salah satu jenis gangguan yang berpengaruh sangat
signifikan terhadap sistem. Jenis lain dari gangguan adalah jaring transmisi
yang terputus, beban lebih, atau hubung singkat. Dengan demikian diharapkan
stabilitas sistem akan menuju ke keadaan mantap dalam waktu singkat setelah
gangguan menghilang.
Gangguan dapat dibagi menjadi 2
kategori, yaitu gangguan kecil dan gangguan besar. Gangguan kecil merupakan
satu dari elemen sistem dinamik yang dapat dianalisis menggunakan persamaan
linear (analisis sinyal kecil). Gangguan kecil yang terjadi berupa perubahan
beban pada sisi beban atau pembangkit secara acak, pelan, dan jatuh bertingkat.
Jatuh (trip) yang dialami oleh jaring tenaga listrik dianggap sebagai
gangguan kecil jika pengaruhnya terhadap aliran daya sebelum gangguan pada
jaring itu tidak signifikan. Bagaimanapun juga, gangguan yang menghasilkan
kejutan tiba-tiba pada tegangan bus adalah jenis gangguan besar yang harus
dihilangkan secepatnya. Jika tidak dihilangkan secepatnya, gangguan itu akan
sangat mempengaruhi kestabilan sistem. Tidak hanya besar gangguan, waktu
gangguan juga berpengaruh terhadap kestabilan sistem.
A. Gangguan
Terhadap Stabilitas
1.
Gangguan Kecil
Merupakan satu
dari elemen sistem dinamik yang dapat dianalisis menggunakan persamaan linear
(Analisis sinyal kecil). Gangguan kecil yang terjadi berupa perubahan beban
pada sisi beban atau pembangkit secara acak, pelan dan bertingkat. Jatuh (trip)
yang dialami oleh jaring tenaga listrik dianggap sebagai gangguan kecil jika
pengaruhnya terhadap aliran daya sebelum gangguan pada aliran itu tidak
signifikan.
2.
Gangguan Besar
Gangguan ini
bersifat mendadak, yakni gangguan yang menghasilkan kejutan tegangan tiba tiba
pada tegangan bus. Gangguan besar ini harus secepatnya dihilangkan, jika tidak
dihilangkan secepatnya, gangguan tersebut sangat mempengaruhi kestabilan
sistem. Tidak hanya gangguan, waktu gangguan juga berpengaruh terhadap
kestabilan sistem.
Meskipun
kestabilan sebuah sistem dapat dilihat secara menyeluruh dan meluas, tetapi
untuk tujuan analisis suatu sistem, maka
B. Masalah
Stabilitas Dalam Sistem Tenaga Listrik
1.
Stabilitas Steady State
Kemampuan
dari suatu sistem tenaga untuk mempertahankan sinkronisasi antara mesin mesin
dalam sistem, setelah mengalami gangguan kecil. Analisis stabilitas steady-state
menggunakan pendekatan model linear. Stabilitas steady-state pada
sistem tenaga dapat disebut sebagai kestabilan sinyal kecil (small signal
stability). Stabilitas steady state merupakan sebuah fungsi dari
kondisi operasi.
stabilitas steady
state juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan sistem tenaga listrik
untuk tetap menjaga sinkronisasi diantara mesin dalam sistem dan saluran
external apabila terjadi perubahan beban baik secara normal ataupun lambat.
Stabilitas steady state bergantung kepada batas-batas transmisi dan
kapasitas pembangkitan dan efektifitas perangkat kontrol otomatis, terutama
untuk regulasi tegangan automatis (AVR) pada generator. Pernyataan
diatas juga berlaku untuk kestabilan transient dan dinamik.
Apabila beban
pada generator meningkat maka, rotasi rotor akan melambat, dan sebaliknya, akan
semakin cepat apabila beban menurun. Pada kondisi normal, perubahan sudut rotor
akan sedikit mengalami “overshoot”, yaitu akan sedikit lebih lambat atau
lebih cepat. Pada kondisi stabil maka osilasi akan tetap terjadi sampai
akhirnya berada pada posisi tertentu untuk kondisi beban yang baru.
Apabila rotor berada pada kondisi tetap yang hanya terjadi dalam waktu yang
cepat, maka mesin dapat dikatakan dalam keadaan stabil, dan osilasi dikatakan
memiliki damping yang baik.
Swing pada kondisi
yang telah dijelaskan tersebut biasanya terlalu cepat untuk direspon oleh governor
pada mesin. Bagaimanapun juga, sistem eksitasi generator yang cepat beraksi
(eksiter dan regulasi tegangan pada generator) akan peka terhadap perubahan
tegangan yang menyebabkan osilasi sudut rotor dan memperkuat atau memperlemah
medan generator, sehingga mempengaruhi kecepatan mesin untuk mencapai kondisi
operasi yang stabil. Kondisi yang telah dijabarkan diatas akan selalu ada
pada sistem tenaga listrik karena beban yang ada akan selalu bertambah dan ada
pula yang hilang, dan semua generator yang terinterkoneksi harus selalu
menyesuaikan energi input, sudut rotor, dan eksitasi agar sesuai dengan kondisi
pada saat itu juga.
2. Stabilitas Dinamis
Kemampuan sistem
tenaga listrik untuk kembali ke titik keseimbangan setelah timbul gangguan yang
relatif kecil secara tiba-tiba dalam waktu yang lama, Analisa kestabilitas
dinamis lebih komplek karena juga memasukkan komponen kontrol otomatis dalam
perhitungannya.
3.
Stabilitas Transien
Kemampuan dari
suatu sistem tenaga untuk mempertahankan sinkronisasi setelah megalami gangguan
besar yang bersifat mendadak selama sekitar satu “swing” (yang pertama) dengan
asumsi bahwa pengatur tegangan otomatis (AVR) dan governor belum bekerja.
Analisis Stabilitas transien menggunakan pendekatan model non linear.
Stabilitas transien merupakan fungsi dari kondisi operasi dan gangguan.
Kestabilan
transien juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan sistem tenaga untuk
mencapai kondisi stabil operasi baru yang dapat diterima setelah sistem
mengalami gangguan besar. Analisis kestabilan transien menggunakan pendekatan
model nonlinear. Kestabilan transien pada sistem tenaga adalah respon output
yang mencapai kondisi operasi steady state yang diizinkan dan sistem yang dapat
kembali ke posisi semula pada saat sistem mengalami gangguan. Kestabilan
transien merupakan fungsi dari kondisi operasi dan gangguan. Situasi yang lebih
hebat akan terjadi bila pembangkitan atau beban besar hilang dari sistem atau
terjadi gangguan pada saluran tranmisi. Pada kasus semacam itu stabilitas transient
harus cukup kuat untuk mempertahankan diri terhadap kejutan (shock) atau
perubahan beban yang relatif besar yang terjadi. Stabilitas transient
adalah kemampuan sistem untuk tetap pada kondisi sinkron (sebelum terjadi
aksi dari kontrol governor) yang mengikuti gangguan pada sistem.
Setelah
hilangnya pembangkitan atau beban besar secara tiba-tiba, keseimbangan antara
energi input dan output elektris pada sistem akan hilang. Jika energi input
tidak lagi mencukupi, inersia rotor mesin yang masih bekerja, pada periode yang
singkat akan melambat. Apabila beban hilang maka energi input pada sistem akan
melebihi beban elektris, dan mesin akan bergerak semakin cepat.
Bermacam-macam
faktor mempengaruhi stabilitas sistem, seperti kekuatan pada jaringan transmisi
d idalam sistem dan saluran pada sistem yang berdekatan, karaktristik pada unit
pembangkitan, termasuk inersia pada bagian yang berputar, dan properti elektris
seperti reaktansi transient dan karakteristik saturasi magnetik pada besi
stator dan rotor. Faktor penting lainnya adalah kecepatan dimana saluran atau
perlengkapan yang terjadi gangguan dapat diputus (disconnect ) dan,
dengan reclosing otomatis pada saluran transmisi, yang menentukan
seberapa cepat saluran dapat beroperasi lagi. Sebagaimana pada stabilitas steady-state,
kecepatan respon pada sistem eksitasi generator merupakan faktor yang penting
dalam mempertahankan stabilitas transient. Gangguan pada sistem biasanya
diikuti oleh perubahan tegangan yang cepat pada sistem, dan pemulihan kembali
tegangan dengan cepat menuju ke kondisi normal merupakan hal yang penting
dalam mempertahankan stabilitas.
Seperti yang
telah disebutkan sebelumnya, stabilitas transient adalah kemampuan untuk
tetap pada kondisi sinkron selama periode terjadinya gangguan dan sebelum
adanya reaksi dari governor. Pada umumnya ayunan pertama pada rotor
mesin akan terjadi selama satu detik setelah gangguan, tetapi waktu yang
sebenarnya bergantung pada karakteristik mesin dan sistem transmisi. Setelah
periode ini, governor akan mulai bereaksi, biasanya sekitar 4 hingga 5
detik, dan stabilitas dinamis akan efektif.
Selama periode
peralihan, tegangan terminal, sudut rotor dan frekuensi akan berubah. Besarnya
tegangan kumparan medan akan dipengaruhi oleh:
·
Arus induksi pada kumparan peredam (damper
winding) selama terjadinya perubahan nilai arus pada kumparan jangkar.
Konstanta waktu terjadinya arus ini berkisar antara 0.1 detik dan disebut “efek
subtransient”.
·
Arus induksi pada kumparan medan selama
terjadinya perubahan mendadak pada arus kumparan jangkar. Kostanta waktu untuk
periode ini berkisar 2 detik dan disebut sebagai “efek transient”.
Telaah kestabilan peralihan bertujuan untuk menentukan
apakah sistem tadi akan tetap dalam keadaan serempak setelah terjadinya
gangguan berat, misalnya gangguan sistem transmisi, perubahan beban yang
mendadak, terputusnya unit pembangkit, atau pemutaran saklar (switching)
saluran. Telaah semacam ini telah dimulai lebih dari 50 tahun yang lalu, tetapi
pada saat itu hanya terbatas pada pada pembahasan masalah dinamis yang
menyangkut tidak lebih dari dua buah mesin. Sistem daya masa kini jauh lebih
luas, ditambah dengan sistem interkoneksi yang rumit dan melibatkan
banyak mesin.
Masalah kestabilan peralihan menyangkut gangguan besar
yang tidak lagi memungkinkan proses kelinieran, sehingga persamaan tidak linier
differensial dan aljabar harus diselesaikan dengan metoda langsung atau dengan
prosedur iterasi. Masalah kestabilan peralihan dapat lebih lanjut dibagi
kedalam kestabilan ayunan pertama (first-swing) dan ayunan majemuk (multiswing).
Kestabilan ayunan pertama didasarkan pada model generator yang cukup sederhana
tanpa memasukkan sistem pengaturannya. Biasanya periode waktu yang periode
waktu yang diselidiki adalah detik pertama setelah timbulnya gangguan pada
sistem. Bila mesin dikatakan berada dalam kondisi serempak sebelum berakhirnya
detik pertama, maka kita katakan sistem ini stabil. Masalah kestabilan
ayunan majemuk mencakup periode telaah yang lebih lama, dan karenanya harus
mempertimbangkan juga pengaruh sistem pengaturan generator terhadap kinerja
mesin didalam periode waktu yang cukup lama. Model – model mesin dengan perincian
yang lebih tinggi harus dibuat untuk menggambarkan kinerjanya dengan tepat.
Daftar
Rujukan
http://sistem-tenaga-listrik.blogspot.co.id/2011/05/stabilitas-sistem-tenaga.html
http://criepi.denken.or.jp/en/system/unit/01/index.html
Komentar
Posting Komentar