JARINGAN DISTRIBUSI
TENAGA LISTRIK
Pusat tenaga listrik
umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik yang dihasilkan pusat
pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi. Tegangan generator
pembangkit relatif rendah (6 kV – 24 kV). Maka tegangan ini dinaikin dengan
transformator daya ke tegangan yang lebih tinggi antara 150 kV – 500 kV. Tujuan
peningkatan tegangan ini, selain mempebesar daya hantar dari saluran
(berbanding lurus dengan kwadrat tegangan), juga untuk memperkecil rugi daya
dan susut tegangan pada saluran transmisi. Penurunan tegangan dari jaringan
tegangan tinggi/ekstra tinggi sebelum ke konsumen dilakukan dua kali. Yang
pertama dilakukan di gardu induk (GI), menurunkan tegangan dari 500 kV ke 150
kV atau dari 150 kV ke 70 kV. Yang kedua dilakukan pada gardu induk distribusi
dari 150 kV ke 20 kV atau dari 70 kV ke 20kV. Saluran listrik dari sumber
pembangkit tenaga listrik sampai transformator terakhir, sering disebut juga
sebagai saluran transmisi, sedangkan dari transformator terakhir, sampai
konsumen terakhir disebut saluran distribusi atau saluran primer. Ada dua macam
saluran transmisi/distribusi PLN yaitu saluran udara (overhead lines) dan saluran kabel bawah tanah (underground cable).
v
Sistem Jaringan Distribusi
Ada tiga bagian penting dalam proses penyaluran tenaga
listrik, yaitu: Pembangkitan, Penyaluran (transmisi) dan distribusi seperti
pada gambar berikut :
Gambar
2.1. Tiga komponen utama dalam Penyaluran Tenaga Listrik
Tegangan sistem distribusi dapat dikelompokan menjadi 2
bagian besar, yaitu distribusi primer (20kV) dan distribusi sekunder
(380/220V). Jaringan distribusi 20kV sering disebut Sistem Distribusi Tegangan
Menengah dan jaringan distribusi 380/220V sering disebut jaringan distribusi
sekunder atau disebut Jaringan Tegangan Rendah 380/220V.
a. Jaringan
Pada Sistem Distribusi Primer
Jaringan Pada Sistem Distribusi tegangan menengah (Primer
20kV) dapat dikelompokkan menjadi lima model, yaitu Jaringan Radial, Jaringan
hantaran penghubung (Tie Line), Jaringan Lingkaran (Loop),
Jaringan Spindel dan Sistem Gugus atau Kluster.
1. Jaringan
Radial
Sistem distribusi dengan pola Radial seperti Gambar 2.2.
Adalah sistem distribusi yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini
terdapat beberapa penyulang yang menyuplai beberapa gardu distribusi secara
radial.
Gambar 2.2.
Konfigurasi Jaringan Radial
Dalam penyulang tersebut dipasang gardu-gardu distribusi
untuk konsumen. Gardu distribusi adalah tempat dimana trafo untuk konsumen
dipasang. Bisa dalam bangunan beton atau diletakan diatas tiang. Keuntungan
dari sistem ini adalah sistem ini tidak rumit dan lebih murah dibanding dengan
sistem yang lain.
Namun keandalan sistem ini lebih rendah dibanding dengan
sistem lainnya. Kurangnya keandalan disebabkan karena hanya terdapat satu jalur
utama yang menyuplai gardu distribusi, sehingga apabila jalur utama tersebut
mengalami gangguan, maka seluruh gardu akan ikut padam. Kerugian lain yaitu
mutu tegangan pada gardu distribusi yang paling ujung kurang baik, hal ini
dikarenakan jatuh tegangan terbesar ada diujung saluran.
2. Jaringan Hantaran Penghubung (Tie Line)
Sistem distribusi Tie Line seperti Gambar 2.3. digunakan
untuk pelanggan penting yang tidak boleh padam (Bandar Udara, Rumah Sakit, dan
lainlain).
Gambar 2.3.
Konfigurasi Jaringan Hantaran Penghubung
Sistem ini memiliki minimal dua penyulang
sekaligus dengan tambahan Automatic Change Over Switch / Automatic Transfer
Switch, setiap penyulang terkoneksi ke gardu pelanggan khusus tersebut sehingga
bila salah satu penyulang mengalami gangguan maka pasokan listrik akan di
pindah ke penyulang lain.
3. Jaringan
Lingkar (Loop)
Pada Jaringan Tegangan Menengah Struktur Lingkaran (Loop)
seperti Gambar 2.4. dimungkinkan pemasokannya dari beberapa gardu induk,
sehingga dengan demikian tingkat keandalannya relatif lebih baik.
Gambar 2.4. Konfigurasi Jaringan Loop
4. Jaringan
Spindel
Sistem Spindel seperti pada Gambar 2.5. adalah suatu pola
kombinasi jaringan dari pola Radial dan Ring. Spindel terdiri dari beberapa
penyulang (feeder) yang tegangannya diberikan dari Gardu Induk dan tegangan
tersebut berakhir pada sebuah Gardu Hubung (GH).
Gambar 2.5.
Konfigurasi Jaringan Spindel
Pada sebuah spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang
aktif dan sebuah penyulang cadangan (express) yang akan dihubungkan
melalui gardu hubung. Pola Spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan
menengah (JTM) yang menggunakan kabel tanah/saluran kabel tanah tegangan
menengah (SKTM).
Namun pada pengoperasiannya, sistem Spindel berfungsi sebagai
sistem Radial. Di dalam sebuah penyulang aktif terdiri dari gardu distribusi
yang berfungsi untuk mendistribusikan tegangan kepada konsumen baik konsumen
tegangan rendah (TR) atau tegangan menengah (TM).
5. Sistem
Gugus atau Sistem Kluster
Konfigurasi Gugus seperti pada Gambar 2.6. banyak digunakan
untuk kota besar yang mempunyai kerapatan beban yang tinggi. Dalam sistem ini
terdapat Saklar Pemutus Beban, dan penyulang cadangan.
Gambar 2.6. Konfigurasi Sistem Kluster
Dimana penyulang ini berfungsi bila ada gangguan yang terjadi
pada salah satu penyulang konsumen maka penyulang cadangan inilah yang
menggantikan fungsi suplai kekonsumen.
b. Sistem
Distribusi Sekunder (Jaringan Tegagan Rendah 380/220V)
Sistem distribusi sekunder seperti pada Gambar 2.7. merupakan
salah satu bagian dalam sistem distribusi, yaitu mulai dari gardu trafo sampai
pada pemakai akhir atau konsumen.
Gambar 2.7. Hubungan
tegangan menengah ke tegangan rendah dan konsumen
Melihat letaknya, sistem distribusi ini merupakan bagian yang
langsung berhubungan dengan konsumen, jadi sistem ini selain berfungsi menerima
daya listrik dari sumber daya (trafo distribusi), juga akan mengirimkan serta
mendistribusikan daya tersebut ke konsumen. Mengingat bagian ini berhubungan
langsung dengan konsumen, maka kualitas listrik selayaknya harus sangat
diperhatikan.
Jatuh tegangan pada sistem distribusi mencakup jatuh tegangan
pada:
·
Penyulang Tegangan Menengah (TM)
·
Transformator Distribusi
·
Penyulang Jaringan Tegangan Rendah
·
Sambungan Rumah
·
Instalasi
Rumah.
Jatuh tegangan adalah perbedaan tegangan antara tegangan
kirim dan tegangan terima karena adanya impedansi pada penghantar. Maka
pemilihan penghantar (penampang penghantar) untuk tegangan menengah harus
diperhatikan. Jatuh tegangan yang di-ijinkan tidak boleh lebih dari 5% (ΔV ≥
5%). Secara umum ΔV dibatasi sampai dengan 3,5%.
Daftar Rujukan
Jaringan Distribusi Tenaga Listrik.Repository.usu.ac.id>chapter II
Komentar
Posting Komentar